Di Desa Tani Bhakti Kukar, Dana Desa Atasi Krisis Air dan Dongkrak PADesa

0
549

TERASLAMPUNG.COM — Presiden Joko Widodo dan Menteri Desa Eko Sandjojo mengapresiasi cara Kepala Desa Tani Bhakti, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartabegara, Kalimantan Timur dalam mengelola dana desa. Apresiasi itu mereka ungkapkan ketika mengunjugi desa tersebut, Senin (5/12/2016).

Di desa yang berada di kawasan perbukitan itu Presiden Jokowi dan Mendesa mengecek fasilitas desa yang dibangun dengan dana desa. Antara lain adalah embung air bersih yang dikelola dengan sangit baik oleh warga desa.

Selain untuk air bersih bagi keperluan sehari-hari warga, embung juga dimanfaatkan warga Desa Tani Bhakti untuk mengairi sawah. Berkat pengelolaan embung yang baik, para petani kini tidak kekurangan air.

Desa Tani Bhakti juga menjadi penghasil aneka produk kehutanan. Misalnya memproduksi kayu sengon, mahoni, gaharu, angsana, dan jati. Hal ini bisa dimaklumi karena sebelumnya Desa Tani Bhakti masuk dalam kawasan hutan bukit Suharto yang merupakan hutan lindung Nasional. Kemudian desa ini dikembangkan menjadi kawasan transmigrasi lokal yang mulai dibangun pada 1990.

Desa Tani Bhakti ini menjadi salah satu contoh desa sukses yang pembangunannya terus didorong Pemerintah, khususnya Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, danTransmigrasi. Bahkan Menteri Desa Eko Putro Sandjojo bersama Presiden Jokowi meninjau langsung progres pembangunan di Desa yang dihuni 376 Kepala Keluarga ini.

Menteri Desa Eko Sandjojo melihat langsung penggunaan Dana Desa yang sudah mulai dicairkan sejak tahun 2015. Pada tahun pertama, Dana Desa yang diterima sebesar Rp277.894.500 (Rp277,8 juta) sedangkan tahun 2016 naik menjadi Rp648.487.000 (Rp648,4 juta).

Menteri Eko sangat mengapresiasi penggunaan Dana Desa yang sepenuhnya untuk pembangunan desa dan melibatkan masyarakat secara aktif. Sebagian besar Dana Desa digunakan untuk membangun sarana air bersih seperti embung dan waduk. Hal ini tidak lain karena masalah kekeringan kerap menimpa warga desa di perbukitan ketika musim kemarau.

Presiden Jokowi siap memanen padi varietas unggul secara simbolis di Desa Tani Bhakti.
Presiden Jokowi siap memanen padi varietas unggul secara simbolis di Desa Tani Bhakti.

“Ini kita apresiasi, karena sebelum ada embung desa masyarakat harus membeli air di musim kemarau sampai Rp80.000 dan sekarang cukup dengan Rp15.000, termasuk sudah dipasang pipa. Dari sarana air bersih ini bisa dihasilkan Pendapatan Asli Desa (PADes) antara 3-4 juta per bulan,” ujar Menteri Eko di Desa Tani Bhakti, Minggu (4/12).

Menteri Eko yang didampingi Kepala Desa Tani Bakti, Alamsycah, juga menegaskan bahwa waduk yang dibangun juga dibutuhkan masyarakat untuk menjamin keberlanjutan tanaman pertanian di musim kemarau. Waduk itu bisa mengairi 20 hektar lahan pertanian di desa tersebut.

“Saran saya selanjutnya, Dana Desa bisa dikembangkan lagi untuk memperkuat ekonomi desa. Misalnya dengan membangun kolam budidaya ikan, dan tentunya dengan membuat BUMDesa sebagai wadah pengelolaan ekonomi,” jelas Menteri Eko.

Sementara itu, Kepala Desa Tani Bakti Alamsycah, menjelaskan bahwa Dana Desa 2015 sebesar Rp277,8 juta digunakan untuk membangun Embung Desa dengan biaya Rp111.155.000, kemudian membangun pondasi Poliklinik Desa (Polindes) dengan anggaran Rp111.155.000. Sisanya sebesar Rp55.582.000 dipakai buat Penyediaan Sarana air bersih berupa sumur bor.

Ada pun Dana Desa tahun 2016 sebesar Rp648,4 juta masing-masing digunakan untuk Embung Desa sebesar Rp124.157.000, Polindes Rp100.989.000, Pembuatan Saringan air bersih dan pelengkap Rp53.456.160, Pipanisasi SAB Rp147.608.640, pembuatan parit tepi jalan Rp138.845.239, serta Pembangunan WC Pasar Desa Rp83.430.900.

Penggunaan Dana Desa mengikuti aturan yang ditentukan, mulai dari perencanaan kegiatan yang betul-betul diusulkan langsung oleh masyarakat dan pelaksanaannya melibatkan langsung masyarakat. Pengerjaannya dilakukan dengan swakelola padat karya sehingga dari segi pembiayaan kegiatan lebih murah dan melibatkan masyarakat secara penuh.

“Perencanaan desa sangat tertata dan konsep desa mandiri berjalan dengan baik karena aspirasi masyarakat selalu eksplor kepala desa hingga menjadi kebijakan bersama,” jelas Alamsycah.

Ia mengatakan bahwa sarana air bersih yang dibangun menjadi contoh di semua desa di Kabupaten Kukar. Sebab kelangkaan air bersih adalah masalah yang sudah lama dihadapi masyarakat setiap musim kemarau tiba. Sekarang dengan Dana Desa, ketersediaan air bersih sudah tidak lagi menjadi masalah. Bahkan ada kenaikan Pendapatan Asli Desa (PADesa) dari pengelolaan air bersih ini.

“Masyarakat juga melakukan penanaman pohon secara serentak untuk komuditi buah-buahan di tingkat desa, sehingga target Desa Tani Bakti menjadi kawasan agro wisata semakin mendekati kenyataan,” tuntas Alamsycah.

TIDAK ADA KOMENTAR