Pedagang Kuliner Deswita Linerrejo Gelar Lomba Layang-Layang

TERASDESA.CO.ID — Puluhan warga dari berbagai kalangan usia di Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, mengikuti perlomban layang-layang di Lapangan Desa Sidorejo yang disulap menjadi salah satu destinasi wisata kuliner ‘Deswita Linerrejo’ (Desa Wisata Kuliner Sidorejo), Kamis (23/7/2020).

Lomba layang-layang yang diinisiasi para pedagang kuliner ‘Deswita Linerrejo’ ini menggandeng anggota DPR RI dari Komisi III Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia dan Keamanan, Taufik Basari dan Ketua Komisi II DPRD Lampung, Wahrul Fauzi Silalahi yang mana kedua politisi Partai NasDem ini juga dikenal dengan sebutan sebagai pengacara rakyat.

Pada perlombaan layang-layang bersama pengacara rakyat tersebut, dibuka oleh Kepala Desa Sidorejo Tommy Yulianto. Selanjutnya aneka bentuk layang-layang yang dibuat warga peserta lomba, menghiasi langit di area lapangan Desa Sidorejo yang juga sebagai tempat wisata kuliner Deswita Linerrejo mulai sekitar pukul 13.30 WIB hingga 16.00 WIB.

Ketua panitia lomba, Budi Santoso (40) atau yang akrab disapa Hasan mengatakan, kegiatan lomba layang-layang ini dilakukan, hanya sebagai bentuk rasa syukur kami para pedagang kuliner di Dewita Linnerrejo dan juga sebagai sarana hiburan warga untuk menghilangkan rasa bosan, karena selama ini mereka tinggal di rumah akibat dampak pandemi Covid-19.

“Ini baru kali pertama atau perdana kami adakan lomba layang-layang, alhamdulilah kegiatan positif ini mendapat respon baik anggota DPR RI Tufik Basari dan anggota DPRD Lampung, Wahrul Fauzi Silalahi yang mana keduanya ini dikenal dengan sebutan pengacara rakyat,”ujarnya kepada teraslampung.com, Kamis (23/7/2020) sore.

Menurutnya, kegiatan ini memperlombakan semua jenis dan ukuran layang-layang. Dalam lomba dibagi beberepa kategori seperti terindah, terunik, terkecil, terbesar, terpanjang ekornya, teranteng diudara, teraneh, terfavorit, terjelek dan the king. Peserta lomba yang masuk dalam beberapa kategori tersebut, kami panitia lomba memberikan hadiah berupa uang tunai dan juga tropy.

“Jenis layang-layang termasuk ukuran yang dilombakan bebas, begitu juga usia peserta tidak dibatasi. Namun hanya jumlah pesertanya saja yang kami batasi yakni hanya untuk masyarakat di seputar wilayah Kecamatan Sidomulyo karena situasinya juga masih dalam kondisi pandemi Covid-19,”ungkapnya.

Jumlah peserta yang mendaftar, kata Hasan, sebanyak 80 orang dan peserta lomba semua kalangan. Kegiatan ini dipusatkan di lapangan Desa Sidorejo yang juga sebagai tempat wisata kuliner ‘Deswita Linerrejo’ (Desa wisata kuliner sidorejo), karena Dewita Linerrejo menjadi salah satu ikon di Kecamatan Sidomulyo sebagai destinasi wisata kuliner.

“Lomba layang-layang ini kami gelar, hanya sebagai hiburan warga saja dan juga untuk melestarikan permainan tradisional. Insya Allah kedepannya, kegiatan positif ini rencananya akan kami gelar lebih tertata dan meriah lagi,”pungkasnya.

Anggota DPR RI dari Komisi III Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia dan Keamanan, Taufik Basari atau biasa disapa Tobas saat ditemui usai kegiatan lomba layang-layang di salah satu Rumah Makan yang menjadi tempat dilakukannya reses mengatakan, selain kunjungan reses yang dilakukannya di beberapa tempat di Lampung Selatan, kedatangannya di Kecamatan Sidomulyo ini yakni ingin menjalin keakraban bersama warga.

“Saya bangga datang kesini (Sidomulyo), karena disini saya bisa melihat senyum sumringah dan wajah-wajah bahagia warga Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan,”ujarnya kepada teraslampung.com

Menurut politisi Partai NasDem ini, kegiatan potif lomba layang-layang yang dilaksanakan oleh teman-teman pedagang kuliner Dewita Linerrejo tadi, yakni sebagai bentuk melestarikan permainan tradisional. Selain menghibur, melalui lomba layang-layang ini juga dapat mempererat tali silaturahmi antar warga.

Ia juga berharap, kedepannya kegiatan positif seperti ini harus digelar dan mungkin lebih meriah lagi, karena bisa menjadi workshop khusus untuk pelaksanaan festival desa sehingga bisa mengundang minat masyarakat lainnya yang ada di luar Kecamatan Sidomulyo atau Kabupaten Lampung Selatan.

“Jika festival desa ini terlaksana, bisa masuk dalam kalender kegiatan desa. Tujuan utama festival, untuk memperkenalkan kepada dunia luar kalau Desa Sidorejo selain memiliki destinasi wisata kuliner ‘Deswita Linerrejo’ juga nyaman dan aman untuk dikunjungi,”jelasnya.

Diketahui, layangan, layang-layang atau juga disebut wau (di sebagian wilayah Semenanjung Malaya), adalah sebuah permainan yang dibuat dari sebuah lembaran bahan tipis berkerangka yang diterbangkan ke udara dan terhubungkan dengan tali atau benang ke daratan atau pengendali.

Dalam bahasa inggirs, layang-layang ini dikenal juga dengan sebutan kite, nama kite ini diambil dari nama burung pemangsa yang anggun dan lemah gemulai kepak sayapnya saat terbang.

Permainan tradisional ini memanfaatkan kekuatan hembusan angin untuk mengangkatnya atau menerbangkannya. Selain dikenal luas di seluruh dunia sebagai alat permainan, layang-layang diketahui memiliki fungsi ritual, alat bantu memancing atau menjerat, menjadi alat bantu penelitian ilmiah serta media energi alternatif.

Layang-layang terbang ke udara, berkat gaya-gaya aerodinamika gerakan relatif terhadap angin. Angin alternatif tersebut, ditimbulkan dari aliran udara alamiah atau tarikan layang-layang melalui benang penghubung.

Bahkan layang-layang ini juga, digunakan sebagai alat bantu penelitian cuaca yang dikenal sejak abad ke-18. Sepeti yang dikenal hingga saat ini adalah, ketika salah satu ilmuan Benjamin Franklin menggunakan layang-layang yang terhubung dengan kunci untuk menunjukkan bahwa petir membawa muatan listrik.

Layang-layang raksasa dari bahan sintetis, sekarang telah dicoba juga menjadi alat untuk menghemat penggunakan bahan bakar kapal pengangkut. Ketika angin berhembus kencang, kapal tersebut akan membentangkan layar raksasa seperti layang-layang yang akan “menarik” kapal sehingga menghemat penggunaan bahan bakar.

Zainal Asikin/Teraslampung.com